@aviucil
Rabu, 17 September 2014
Selasa, 16 September 2014
Kota Ukir
Dari sisi etimologisnya Jepara dulunya menurut C. Lekkerkerker berasal dari kata Ujungpara. disebut ujungpara karena dahulu ada orang dari majapahit yang sedang berjalan melewati daerah yang sekarang disebut Jepara,
melihat nelayan yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya "membagi" dalam bahasa jawa adalah "Para" (dibaca: Poro), maka pengembara tersebut
menceritakan di kota tujuannya bahwa dia melewati Ujung Para karena dia
melewati ujung pulau Jawa yang ada yang membagi ikan. Yang kemudian
berubah menjadi Ujung Mara, dan Jumpara, yang akhirnya berubah menjadi Japara pada tahun 1950an diubah menjadi Jepara
hal itu dibuktikan adanya Persijap (Persatuan Sepakbola Japara). Kata
Ujung dan Para sendiri berasal dari bahasa jawa, Ujung artinya bagian darat yang menjorok ke laut dan Para yang artinya menunjukkan arah,
yang digabung menjadi suatu daerah yang menjorok ke laut. Letak
geografis memang menempatkan Jepara di semenanjung yang strategis dan
mudah di jangkau oleh para pedagang. Para dari sumber yang lain
diartikan Pepara, yang artinya bebakulan mrono mrene, yang
kemudian diartikan sebuah ujung tempat bermukimnya para pedagang dari
berbagai daerah. Orang Jawa menyebut menyebut nama Jepara menjadi Jeporo, dan orang Jawa yang menggunakan bahasa krama inggil menyebut Jepara menjadi Jepanten, dalam bahasa Ingris disebut Japara, Sedangkan orang Belanda menyebut Yapara atau Japare.
Kamis, 09 Januari 2014
Fatin Dia Dia Dia
ini loh lagunya Fatin Sidqia Lubis :)
Selalu ku pikir bahwa aku tegar
Aku tak pernah menyangka kan begini
Dan saat engkau tak di sisiku lagi
Baru ku rasakan arti kehilangan
Ingin ku bicara, hasrat
mengungkapkan
Masih pantaskah ku bersamamu
Tuk lalui hitam putih hidup ini
Saat engkau pergi, tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa
Dia dia dia telah mencuri hatiku
Dan saat hari dimana kau
tinggalkanku
Ku kira semuanya kan baik-baik saja
Dan kini baru ku sadari semua
Dia dia dia telah mencuri hatiku
Ingin ku bicara, hasrat
mengungkapkan
Masih pantaskah ku bersamamu
Tuk lalui hitam putih hidup ini
Saat engkau pergi, tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa
Dia dia dia telah mencuri hatiku
Ingin ku bicara
Tuk lalui hitam putih hidup ini
Saat kau pergi, tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa
Ingin ku bicara, hasrat
mengungkapkan
Masih pantaskah ku bersamamu
(bersamamu)
Tuk lalui hitam putih hidup ini
(hitam putih, hidup ini)
Saat engkau pergi, tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa
Dia dia dia telah mencuri hatiku
Dia dia dia telah mencuri hatiku
Telah mencuri hatiku Jumat, 08 November 2013
Puisi
Tak
Terjamah
Karya : Qudsiah N.A
Sepimu
takkan berarti
Jika
semua itu hanya mimpi
Khayalan,
kenyataan, keterpurukan
Itu
semua tak akan mampu untuk membuatmu bangkit dari kegelisahan
Ingatlah
mentari masih menyapamu dengan ramah
Menginginkanmu
untuk melupakan yang tak terjamah
Senja
merona masih menawarkan sejuta keindahan
Berharap
kau masih menatap masa depan
Malam pualam pun masih
memperlihatkan langit yang tersenyum manis
Yang
menginginkanmu untuk melawan hati yang menangis
Bintang, apakah kau masih tetap
pada pendirianmu ?
Untuk
tersenyum manis kepada insan yang kau sayang
Yang
tak terjamahpun menginginkanmu untuk kembali mangarungi hidup dengan sebuah
senyum yang tak hambar
Hati
ini tersayat ketika melihat bening air mata terjatuh di kelopak matamu
Bintang
terang, tersenyumlah kembali seperti seidia kala
Jadikan
yang tak terjamah kenangan terindah dalam hidupmu
Jadikan
yang tak terjamah mimpi indahmu
Jangan
jadikan yang tak terjamah sebuah alasan untuk membuatmu melupakan masa depan
dan semangatmu yang dulu kala selalu mambara hilang oleh kerdipan mata
Pohon
yang rapuh menginginkanmu untuk menjadi sandaran seperti dahulu
Embun
pagi merindukan sapaan manis darimu yang selalu tersenyum hangat untuk dunia
Ayolah,
jadikan tak terjamah sebagai semangat hidupmu
Diri
ini berharap dikau menjadi sosok bidadari yang penuh dengan ketegaran
Karna
ketegaran sesungguhnya adalah mampu menahan butir air mata.
Disini
kamu masih ada pagi merekah yang siap menghangatkanmu.
Teruntuk bintang dari pagi merekah
9mar2013
cerpen kebudayaan
Double
Date Pesona Wayang Klitik
Ketika
sang surya mulai menampakkan warna keemasannya . Semilir angin membawa kehangatan dipagi hari
yang cerah ini. Kicau burung mengalun lembut bersamaan gemericik air yang
mengalir di sela bebatuan. Telihat jelas suasana pedesaan yang enak dipandang
oleh mata. Keindahan alam yang yang seolah membuat mataku terpukau oleh
Agung-Nya kuasa Allah. Terdapat keramaian
di dalamnya, para penjual sudah memenuhi jalanan maupun pasar.
“ Hai,
maulida ning desane kene kok rame to ?gak
koyo biasane yo.. emange ono opo leh.?” Tanya seorang pemuda yang tampan,
tinggi dan gaya bicara yang sok keren.
“
Men, kowe lali opo nglali to? Mengko bengi iku ono pertunjukan wayang klitik. ” balas Maulida seorang gadis kecil
mungil nan ayu rupanya.
“Ono acara opo si. ? ” tanya romen dengan raut wajah penasaran sembari mengingat – ingat.
“Ono acara opo si. ? ” tanya romen dengan raut wajah penasaran sembari mengingat – ingat.
“
Men2, kowe ki wes pikun yo ?,
mengko kan ono acara sedekah bumi utowo syukuran desa amargi hasil panen
melimpah ing desa Wonosoco kita yang
tercinta ini.” jawab maulida dan mencoba menjelaskan.
*
Sambil melihat – lihat para penjual yang sedang berjualan, Maulida mengajak
Romen untuk membeli makanan diantara penjual yang sudah menempatkan diri di
pasar sejak dini hari tadi. Selang beberapa menit Maulida dan Romen sudah
membeli makanan yang mereka butuhkan, kemudian mereka melanjutkan perjalanannya
ke kantor desa ( tempat pertunjukan wayang diadakan ) untuk melihat persiapan – persiapan yang dilakukan oleh panitia sedekah.
“Maulida,sedekah
bumi atau syukuran hasil panen iku opo to ?.” tanya Romen.
“
Lho, kowe gak ngerti to men ?
sedekah bumi utowo syukuran hasil panen iku bentuk rasa syukur kito karo Gusti
Allah amargi ingkang Kuwasa menehi panen sing melimpah akih .” jelas Maulida.
“
Maulida, hubungan sedekah bumi karo pertunujukan wayang iku opo to ya ?
.”
Tanya Romen (sambil menggaruk kepalanya ).
Maulida dengan
menatap Romen “ Hubungane yoiku.. sedekah lan wayang
kulit inggih punika satu kesatuan adat istiadat ingkang sampun kalampah pirang –
pirang tahun umpamane wayang iku gak di gawe pertunjukkan iso gawe panen tahun
ngarep kuwi gagal.”
Di sela-sela perbincangan Romen dan Maulida tiba-tiba Avi dan Lian datang
menghampiri. Mereka juga ingin ikut menonton persiapan pertunjukan wayang
klitik. Lalu, mereka berempat pergi ke kantor balai desa. Selama dalam
perjalanan ke balai desa, mereka melihat-lihat pameran dan para pedagang yang
berjualan. Ketika sampai di Balai Desa Romen terkagum karena
persiapan-persiapannya sudah matang.
‘‘ Wah, sae tenan ya pamerane opo maneh
mengko bengi.. ” ucap Avi
“
Lhah iyaaa dong.” Balas Maulida.
Sekitar jam empat sore, meraka berempat pulang
dan akan kembali ke Balai Desa nanti malam untuk menonton pertunjukkan wayang
klitik.
“ Mengko ojo lali yo kumpul neng kene meneh. ” jelas Maulida.
**
Pukul delapan malam Balai
Desa Wonosoco sudah ramai di penuhi para pengunjung dan para pedagang. Semua
antusias menonton pertunjukkan wayang klitik tapi Maulida dan Romen belum
sampai ditempat. Avi dan Lian lama menunggu, hingga akhirnya tiba – tiba Romen dan Maulida menepuk pundak mereka berdua. Avi dan Lian serentak
mereka berkata “ ciyeeeeee….”.
Mereka berempatpun
sangat menikmati salah satu budaya di desanya itu yaitu pertunjukan wayang
klitik bagi mereka, pertunjukan wayang
klitik itu sanagt menarik, bisa menambah wawasan bahwa kebudayaan seperti itu
seharusnya dilestarikan dan sebenarnya kebudayaan yang ada di Indonesia sangat
banyak dan belum terdeteksi. So,
kita sebagai generasi muda perlu melestarikan dengan menjaganya kalo perlu
kenalkan kepada negara luar.
• Finir •
Created by : Cak Mat, Ginanjar, Ucil, Titin R.A
Langganan:
Postingan (Atom)

